
BAGAIMANAKAH cara kaum MISKIN mengekspresikan diri? Barangkali Anda bisa
melihatnya di komunitas penggemar vespa gembel. Kalau kebanyakan orang
suka pamer kemewahan, mereka justru pamer kegembelan. Inilah antitesis
dari parade kemewahan di sekitar kita.Komunitas ini mudah
dikenali. Mereka umumnya mengendarai vespa rombeng tahun 1970-an atau
1980-an yang dimodifikasi sesuka hati hingga bentuknya aneh-aneh. Ada
yang mengganti setang vespanya dengan setang tinggi menjulang. Mereka
menyebut model ini sebagai vespa setang KETHEK karena pengendaranya akan
terlihat seperti KETHEK yang sedang menggelayut di batang pohon.Ada
yang menambahi gerobak di samping vespanya. Ada pula yang menceperkan
dan memanjangkan badan vespa hingga bermeter-meter. Yang begini mereka
sebut vespa long.Ciri lain, vespa model begini dekilnya minta ampun.
Maklum, penggemarnya sengaja tidak mencucinya berbulan-bulan hingga
bertahun-tahun. Tampilan vespa kian kumuh karena penggemarnya kerap
menempelkan aneka ”sampah” di vespa mereka, mulai dari karung goni,
gombal, drum bekas, galon air, sandal jepit, CD, selongsong mortir,
botol infus, tengkorak sapi, hingga celana dalam.”Pokoknya makin gembel makin keren. Itu berarti vespanya sering dipakai untuk keliling daerah,''Tidak
hanya rupa vespanya, tampilan sebagian penunggangnya pun sama
acak-acakannya. Lihatlah anak anak RSJ yang berambut gimbal dan
berpakaian lusuh.Mengapa mereka mau menggembel-gembelkan diri?
Ternyata ini ada kaitannya dengan faham kebebasan yang mereka anut.
Mereka ingin merombak pandangan orang yang sering menilai orang lain
dari penampilan luarnya.”Mereka ingin buktikan bahwa orang yang
berpenampilan gembel hatinya belum tentu jahat,” semua tahu persis
bagaimana sakitnya disepelekan hanya karena penampilannya. Dengan
vespa gembel, komunitas ini bisa dengan bebas mengekspresikan diri.
”Kalau orang kaya bisa pamer kemewahan, kita bisa pamer kegembelan,”mereka
mengaku senang sekali jika sedang tur berpapasan dengan rombongan
penggemar motor mewah. ”Ternyata orang di pinggir jalan lebih banyak
yang ngeliatin kita daripada ngeliatin kelompok motor mewah. Kalau
enggak pake vespa gembel, mana ada yang mau memerhatikan kita,” Kebanyakan
penggemar vespa gembel memang berasal dari kelompok menengah ke bawah.
Mereka umumnya pengangguran, mahasiswa, atau buruh serabutan. Meski ada
pula yang berprofesi sebagai seniman, guru, atau pemilik bengkel.Di
dunia nyata, kelas ini sering kali dipandang sebelah mata. Mereka kerap
diabaikan dan dipinggirkan. Nah, lewat vespa gembel mereka menciptakan
ruang ekspresi sendiri lantas merebut perhatian orang lain.Lewat
kegembelannya, mereka menyelipkan semacam semangat demokrasi di
jalanan. Bagi mereka, jalanan yang sering digunakan orang-orang kaya
untuk memamerkan mobil dan motor mewah, juga harus bisa menjadi ruang
bagi rakyat jelata berkantong cekak.Lantas bagaimana kita
memandang komunitas semacam ini? Ketika kita melihat komunitas ini,
sebenarnya kita sedang melihat sebentuk perlawanan rakyat jelata kepada
pihak-pihak berkuasa yang gemar memuja kemewahan. Kegembelan mereka
adalah antitesis dari parade kemewahan di sekitar kita.Tidak
heran, jika komunitas ini tumbuh subur di hampir semua daerah pinggir
kota. Mereka menandai keberadaannya antara lain lewat kegiatan nongkrong
setiap minggu. Mereka membentuk jaringan yang kuat hingga ke
kota-kota lain di luar Pulau Jawa. Mereka saling mengunjungi, saling
membantu, bahkan saling mendoakan.Ada semacam aturan tidak
tertulis bahwa sebuah klub harus menjamu anggota klub dari kota lain
yang mampir ke markas mereka. Mereka menyediakan makanan, tempat
menginap sekadarnya, bahkan kadang menyumbang uang bensin.Tamu-tamu
itu sering kali tidak hanya menginap satu-dua hari, tetapi
berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan ada yang menetap hingga satu
tahun. Dari sini, persaudaraan antarkomunitas vespa gembel terbentuk dan
berkembang luas.
Regan Fahmi Putra Prayitno ( 16.036 )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar